Rintik Hujan yang Tersisa

|




Seirama tangisan awan melantun.
Dengan ujung jemari ini, ku coretkan semua kata indah kala remuk menjadi pemisah ..
Tanpa tinta, ku curahkan semua keluh kesah berhiaskan embun di antara kaca jendela,
berayun di jemari pepohonan, berlari menepis butiran kesenangan.. bersamamu..

Tapi semua terasa begitu jauh..
Begitu dalam terperosok, hingga tak dapat aku menggapainya,
begitu sulit untuk ku dekap..hingga aku lengah dan kehilangan semuanya

Kamu tau ?
Terkadang aku ingin menjadi mereka
Tetesan air hujan yang turun bebas tanpa takut terhempas
Menjadi seperti mereka yang terpisah dan berpelukan di satu alur cerita yang sama..

Tapi kering ini memaku sudah
Ruang yang dulu terisi sesak dan bersemi, terhapus sudah..
Merahnya hati telah memudar dan membatu
Pergi dan tertawalah dengan jiwa yang lain!

Karena saat ini hingga nanti, tak akan ada lagi pelangiku di atas hujanmu
Karena suatu saat nanti, tak akan ada lagi hati di jendela kusamku untukmu
dan rintik hujan yang tersisa,
meninggalkan lebam di antara tiga buah bintang yang berbaris di langit sana.

Saat ini..

|


Saat ini ..
siapa yang tidak ingin ? menjadi seorang yang selalu ada di pikiranmu, menjadi seorang yang selalu dinanti oleh kedua matamu. ya.. terkadang angan itu memang menyiksa.
bisa apa ? aku yang selalu diam, aku yang selalu bimbang.. karena apa yang ada di pikiranku sekarang, karena hal-hal bodoh yang terlintas untuk ku lakukan di depanmu..

mungkin ini bukan rasa, gejolak emosi bodoh yang hanya ada pada diri manusia..
mungkin ini bukan khayalan, ilusi konyol yang bisa di rasakan setiap insan..